Etika dan "Habits" Kampungnya

                On pict : Desa Plumbon Kedondong 


Banyak yang bilang hidup dikampung itu enak, nyaman, damai dan tak jarang sebagian orang yang sudah terbiasa hidup di kampung akan berat ninggalin kampung halamannya. Tapi mungkin itu sebagian orang, sebagian lainnya lebih memilih meninggalkan kampung halamannya dengan alasan merantau ataupun memang sudah menetap tinggal di Ibu kota.

Mungkin arti enak, nyaman, damai lebih ke suasana perkampungannya yg masih asri dan punya akan udara segarnya.
Lalu, untuk pertetanggaan sendiri seperti apa Des? Kalau boleh jujur, Cukup keras sih. Gacuma dari segi tetangga aja, perihal kesopanan berbicara, etika ataupun tata karma juga penting banget sih menurut ku. 
Kenapa aku bisa menyimpulkan statement demikian? Secara pribadi dan gak sengaja berbicara langsung dengan sebagian anak-anak jaman sekarang pasti berfikirnya demikian terutama anak-anak milenial. 
Lalu, yang dimaksud omongan atau tata karma yang seperti apa?
Mengambil beberapa respon yang ketidaksengajaan dari teman-teman dan dari aku pribadi yang sering banget ditanya  “Kok betah Des dikampung? Dan beberapa pertanyaan lainnya, bisa diambil arti kurang lebih begini ;

          On pict ; Foto di ambil saat Idul Fitri 2021 


Pertama; Untuk aku pribadi harus lebih memahami hidup dikampung, itu artinya aku harus siap dengan pola pikir dan beberapa statement dari mereka-mereka terutama orang terdahulu yang pastinya mereka punya pemikiran dan pandangan sendiri jauh dengan pemikiran anak-anak muda milenial jaman sekarang. Gak semua yang mereka katakan itu benar dan gak semua yang mereka mau bisa sesuai dengan ekpektasi mereka. Maksud ku jika dirasa itu terlalu mengganggu dan mengusik hidup, jangan semua dimakan mentah-mentah. Maksdunya apa? Dengarkan ditelinga kananmu, buang ditelinga kirimu jika itu dirasa kurang, bukan sotau tapi paling tidak bisa memberi sedikit ruang pemikiran untuk anak-anak jaman sekarang. 

Dan uniknya hidup dikampung bisa aja karena tradisinya dan beberapa habbits lainnya, yang melekat dengan suasana perkampungannya. Makanya tak jarang untuk mereka yang punya kebebasan tersendiri memilih untuk meninggalkan dan mencari peluang diluar kampung mereka. Celoteh dan cuitan dikampung pun akan lebih banyak mereka dengarkan setiap waktunya entah mereka dengar sengaja ataupun gak disengaja, yang pasti hidup di kampung akan ada aja kejutan-kejutan yang kadang menusuk begitu aja (entah perkataan kita yg kurang sesuai atau memang yang datang gitu aja dari orang-orang disekitar kita), contohnya begini ;

Orangtua-orangtua jaman dulu menjunjung tinggi kesopanan, etika dan tata krama, itu kenapa seandainya kita kurang memahami artinya kita sendiri harus siap dengan berbagai kabar dan pertanyaan lainnya.

1. *Sedang naik atau mengendarai motor/mobil* Bertemu dengan orang di jalan, yang sepantasnya mungkin kalian harus nyapa/memberi kode (bahasa jawane nglakson) tapi ternyata kalian sendiri khilaf atau enggan melakukan keadaan demikian, keesokannya pasti akan muncul pertanyaan ;
Naik motor gak kira-kira, nylonong gitu aja gada sopan-sopannya”  
”Itu anaknya siapa kemarin,kok lewat diem-diem ajaa gada sopan-sopannya”

2. *Usia diatas 20 tahun cenderung akan lebih banyak pertanyaan yg masuk, mulai dari ;
Mana calonnya? 
"Kapan nikahnya?” 
tak jarang bahkan yg sudah menikah pun akan tetap dihantui berbagai pertanyaan, dari ;
kapan punya momongan? 
“Ih kok gak hamil-hamil padahal nikah udah sekian tahun”

Dan masih banyak pertanyaan lainnya. Mungkin untuk kalian yang udah terbiasa hidup diperkotaan akan menyadari penuh pertanyaan-pertanyaan demikian hal yang biasa dan gak melulu untuk dipikirkan. Tapi sebaliknya, di kampung gak segampang itu karena beberapa faktor dan tekanan dari orang-orang disekitar. Pasti akan lebih banyak dan banyak lagi kabar-kabar bermunculan.

Sepenggal rangkuman dari bebeberap pilihan cerita atau pengalaman pribadi yg pernah tersirat, meski gak semuanya demikian tapi pasti setiap kampung punya ciri khas, tradisi atau kebiasaan yang memang kudu dikerjakan atau dihormati sesama.

Gimana menurutmu? 
Bantu aku kasih komentar, masukan/sarannya ya, biar aku lebih semangaat lagi buat corat coret blognya.

 
Selamat membaca dan terima kasih sudah berkunjung diblog ku ini yaaa :)


Source : Tulisan opini pribadi
Picture : Doc.Pribadi

Komentar

  1. Entah hukum alam atau apa namanya ya kak. Kalau denger cerita dari beberapa temen yg dari luar kota, termasuk aku juga sih. Ya budaya di kampung emang kayak gitu.

    Dan untuk tulisan kamu yg ini, semangat lanjutin kak🔥
    Tapi kalau boleh saran, dibikin semacam Part ya. Misal:
    Cerita ini Part 1, terserah mau dibikin judul apa. Terus isinya fokus ke poin 1 👇🏻
    *Sedang naik atau mengendarai motor/mobil* Bertemu dengan orang di jalan, yang sepantasnya mungkin kalian harus nyapa/memberi kode*

    Supaya kalau ada yg mau sharing, pembahasan temanya terselesaikan gitu hehe

    BalasHapus
  2. Setuju sama ka riska ehehehe mungkin ceritanya visa lebih fokus sama alurnya jelas..... Pembahasannya tersampaikan dental selesai semangat terms untuk ka desti 💋

    BalasHapus

Posting Komentar